Laman

Senin, 25 Juni 2012

TRIVIA [4]

Arp 273

Arp 273 merupakan dua galaksi yang saling berinteraksi. Galaksi di atas, yang lebih besar, adalah UGC 1810, yang berbentuk seperti mawar karena pengaruh gravitasi galaksi di bawahnya, UGC 1813. Gambar diambil HST (Hubble Space Telescope) pada 17 Desember 2010.

Arp 273


NGC 5965 & NGC 5963

Dua galaksi spiral yang berpasangan ini terletak di sisi utara konstelasi Draco. NGC 5965 adalah galaksi kekuningan yang terletak di atas, sedangkan galaksi kebiruan adalah galaksi pasangannya.

Pada gambar, dua galaksi ini memang terlihat dekat, namun sebenarnya sangat berjauhan dan tidak berpasangan sama sekali. NGC 5965 berjarak sekitar 150 juta tahun cahaya dengan panjang lebih dari 200.000 tahun cahaya. NGC 5963 yang berukuran lebih kecil berjarak sekitar 40 juta tahun cahaya.

NGC 5965 dan NGC 5963


Stephan’s Quintet

Stephan’s Quintet merupakan kelompok galaksi interaktif pertama yang teridentifiasi dan berjarak sekitar 300 juta tahun cahaya. Galaksi-galaksi ini adalah NGC 7319, 7318A, 7318B, dan 7313. Kelompok galaksi ini berwarna kekuning-kuningan dan memanjang dan “berekor” karena gravitasi masing-masing.

Galaksi kebiruan yang terletak di bawah, NGC 7320, yang berjarak sekitar 49 juta tahun cahaya, bukan termasuk galaksi interaktif.

Stephan’s Quintet terletak di pinggirian konstelasi Pegasus. Rentang kelompok galaksi ini adalah sekitar 500.000 tahun cahaya. Di kiri atas, astronom juga menemukan galaksi lain, NGC 7320C, yang juga berjarak 300 juta tahun cahaya.

Stephan's Quintet


M81 dan M82

Beberapa galaksi besar dan nebula “menghiasi” grup galaksi M81 yang ditunjukkan pada gambar di bawah. Galaksi M81, yang terletak di tengah, merupakan galaksi terbesar di grup galaksi ini. M81 berinteraksi dengan galaksi di bawahnya, M82.

Galaksi-galaksi lain yang termasuk grup galaksi M81 juga bisa dilihat pada gambar. M81, bersama Kluster Galaksi Virgo, dan Grup Lokal Galaksi, merupakan bagian dari Superkluster Galaksi Virgo.

M81 dan M82


NGC 1300

NGC 1300 merupakan galaksi spiral batang yang berjarak sekitar 70 juta tahun cahaya di arah tepi konstelasi Eridanus. Gambar ini merupakan salah satu gambar galaksi terbesar yang pernah ditangkap HST (Hubble Space Telescope).

NGC 1300 membentang sejauh 100.000 tahun cahaya. Pada inti galaksi terdapat struktur spiral yang membentang sejauh 3.000 tahun cahaya. Tidak seperti galaksi spiral lain, Milky Way misalnya, sejauh ini belum diketahui adanya black hole raksasa di pusat NGC 1300 .

NGC 1300


Sombrero Galaxy

Galaksi Sombrero merupakan salah satu galaksi terbesar di Galaksi Kluster Virgo. Gambar di bawah ini (dalam citra infra red) diambil baru-baru ini oleh Spitzer Space Telescope, setelah sebelumnya diambil oleh Hubble Space Telescope.

Galaksi Sombrero, atau disebut juga M104, membentang sejauh 50.000 tahun cahaya dan berjarak sekitar 28 juta tahun cahaya. M104 bisa dilihat dengan teleskop kecil di arah konstelasi Virgo.

M104


Centaurus A

Centaurus A merupakan galaksi aktif terdekat dengan Bumi. Centaurus A, atau juga disebut NGC 5128, hanya berjarak 11 juta tahun cahaya. Membentang sejauh 60.000 tahun cahaya, galaksi elips yang merupakan hasil tabrakan dua galaksi ini memiliki kluster bintang muda biru, area pembentukan bintang yang berwarna pink, dan garis-garis debu gelap. Gambar ini diambil dari bawah langit Chile. Di dekat pusat galaksi, banyak serpihan yang sedang dihisap oleh black hole bermassa milyaran kali massa Matahari. Seperti halnya pada galaksi-galaksi aktif lain, proses ini menghasilkan radiasi energi radio, sinar X, dan sinar gamma.

Centaurus A

Artikel mengenai jarak dalam tahun cahaya bisa dibaca di sini.


Thanks for reading ^_^

Sumber:
buku The Astronomy Handbook: Guide to The Night Sky, 2005, karya Clare Gibson.

PS:
Silakan kalau mau copy-paste, namun kalau tidak keberatan mohon sertakan link-back ke blog ini. Terima kasih.

Kamis, 07 Juni 2012

TRANSIT VENUS 2012

Transit pada dasarnya sama dengan gerhana, tiga atau lebih objek berada dalam posisi segaris. Transit Venus berarti Venus akan segaris dengan Matahari dan Bumi, dengan posisi Venus tentu saja di tengah.

Transit Venus hanya terjadi dua kali dalam satu abad. Fenomena langka ini baru terjadi tujuh kali sejak teleskop diciptakan, yaitu pada 1631, 1639, 1761, 1769, 1874, 1882, dan 2004. Pola periode waktu transit Venus adalah 8, 121, 5, 8, dan 105,5 tahun.

Transit Venus pada 8 Juni 2004, diambil oleh satelit TRACE (Transition Region And Coronal Explorer)

Transit Venus pada 8 Juni 2004, diambil dari North Carolina, Amerika Serikat
Transit Venus tahun ini terjadi pada 6 Juni, dan transit selanjutnya akan terjadi pada 11 Desember 2117.

Wilayah Bumi yang bisa dijadikan tempat untuk menyaksikan fenomena ini adalah Amerika Utara, Hawaii, Pasifik barat, Asia utara, Jepang, Korea, China timur, Filipina, Australia timur, New Zealand, dan Indonesia.

Warga Sumatera, Kalimantan, Sulawesi Tengah dan Selatan, Jawa, Bali, dan NTB hanya bisa melihat sebagian proses transit (saat Venus berada di piringan Matahari). Sedangkan yang bisa melihat seluruh proses transit adalah dari wilayah Sulawesi Utara dan Tenggara, NTT, Maluku, dan Papua.

Transit dimulai dari sisi bawah Matahari pada 05:14 WIB, bergerak ke arah barat hingga 11:50 WIB. Venus berada di tengah piringan Matahari pada 08:32 WIB.

Transit Venus 6 Juni, diambil oleh SDO (Solar Dynamics Observatory) 
Mengamati transit Venus berarti juga mengamati Matahari. Oleh karena itu, sebaiknya dilakukan menggunakan teleskop. Pengamatan dengan mata telanjang sulit dilakukan karena piringannya yang kecil dan sinar Matahari yang silau.

Transit Venus 6 Juni, diambil dari ISS (International Space Station)

Transit Venus 6 Juni, diambil dengan teleskop berfilter di Georgia, Amerika Serikat 

Transit Venus 6 Juni, diambil dari Laut Hitam saat Matahari terbit

Transit Venus 6 Juni, diambil oleh pesawat Hinode

Transit Venus 6 Juni, diambil dari Laut Baltic

Transit Venus 6 Juni, diambil dari Laut Norwegia

Video transit Venus 6 Juni bisa dilihat di sini. Sedangkan video versi lengkapnya bisa dilihat di situs NASA.
Video lain:


Sumber:

PS:
Silakan kalau mau copy-paste, namun kalau tidak keberatan mohon sertakan link-back ke blog ini. Terima kasih.

Selasa, 05 Juni 2012

TABRAKAN MILKY WAY DAN ANDROMEDA

Astronom NASA memprediksi bahwa akan ada fenomena kosmik besar yang akan mempengaruhi galaksi kita, Matahari, dan Tata Surya, yaitu tabrakan antar galaksi. Tabrakan antara galaksi Bima Sakti (Milky Way) dan galaksi Andromeda.

Milky Way akan menjadi galaksi dengan bentuk yang baru selama proses tabrakan yang diperkirakan terjadi 4 miliar tahun lagi. Tabrakan dengan galaksi tetangga ini mungkin akan membuat Matahari terlempar ke area baru Milky Way, namun Bumi dan Tata Surya tidak akan hancur.

Ilustrasi pemandangan langit malam dari Bumi 3,75 miliar tahun lagi. Andromeda yang berada di kiri mendominasi pemandangan.
Menurut Roeland van der Marel dari Space Telescope Science Institute (STScl) di Baltimore, kesimpulan mengenai tabrakan Milky Way dan Andromeda konsisten secara statistik.

Temuan ini berdasarkan penghitungan teliti yang dihasilkan Hubble Space Telescope (HST) milik NASA pada pergerakan Andromeda yang juga dikenal sebagai M31 ini. M31 sekarang berjarak 2,5 juta tahun cahaya, namun galaksi ini sedang bergerak menuju Milky Way karena pengaruh gravitasi masing-masing, dan juga karena materi gelap tak terlihat yang mengelilingi keduanya.

Sangmo Tony Sohn dari STScl mengatakan, “Setelah berspekulasi hampir selama satu abad mengenai nasib dua galaksi ini, sekarang kami mendapatkan gambaran yang jelas bagaimana tabrakan ini akan terjadi miliaran tahun dari sekarang.”

Analogi proses tabrakan ini seperti halnya seorang batter (pemukul bola dalam baseball) yang mengamati bola yang bergerak cepat ke arahnya. Meskipun Andromeda mendekati Milky Way 2000 kali lebih cepat, galaksi spiral ini membutuhkan empat miliar tahun untuk menabrak Milky Way.

Simulasi komputer yang diperoleh dari data HST menunjukkan bahwa tabrakan ini akan membutuhkan waktu tambahan 2 milyar tahun lagi setelah proses tabrakan untuk membuat dua galaksi ini benar-benar menyatu karena pengaruh gravitasi. Hasil tabrakan ini akan membentuk satu galaksi elips.

Meski kedua galaksi akan bertabrakan satu sama lain, bintang-bintang dalam kedua galaksi terpisah sangat jauh dan tidak akan bertabrakan selama proses tabrakan galaksi ini. Namun, bintang-bintang ini akan terlempar ke orbit-orbit yang berbeda di sekitar pusat galaksi hasil tabrakan. Hasil simulasi menunjukkan bahwa Tata Surya kita mungkin akan terlempar sangat jauh dibandingkan jarak saat ini dari inti galaksi yang sekarang.

Yang lebih rumit, akan ada galaksi lain yang ikut bergabung dalam tabrakan ini. Galaksi Triangulum, atau M33, yang merupakan galaksi kecil tetangga Andromeda akan ikut bertabrakan dan mungkin nantinya akan menyatu dengan Milky Way–M31. Peluang M33 menabrak Milky Way terlebih dulu bisa dibilang kecil.

Ilustrasi skenario tabrakan
Alam semesta mengembang dengan cepat, dan tabrakan antar galaksi masih terjadi karena mereka memiliki gravitasi dan materi gelap di sekeliling mereka. HST menunjukkan bahwa tabrakan antar galaksi lebih sering terjadi di masa lalu ketika alam semesta masih lebih kecil.

Satu abad yang lalu, para astronom tidak mengetahui bahwa M31 merupakan galaksi yang terpisah jauh dari bintang-bintang Milky Way. Edwin Hubble (1889-1953), seorang astronom Amerika Serikat, menghitung jarak M31 dengan menemukan sebuah bintang variabel yang menjadi “titik tolak”.

Edwin Hubble 
Hubble menyatakan bahwa alam semesta mengembang dan galaksi-galaksi sedang bergerak menjauh dari kita, namun sudah lama diketahui bahwa M31 bergerak menuju Milky Way dengan kecepatan sekitar 400.000 km/jam. Dengan kecepatan seperti itu, kita bisa mencapai Bulan hanya dalam satu jam. Penghitungan ini menggunakan efek Doppler, yaitu perubahan frekuensi dan panjang gelombang dari gelombang yang dihasilkan oleh objek yang bergerak dari pengamat. Efek Doppler dipakai untuk menghitung cahaya bintang pada galaksi yang telah terserap oleh pergerakan Andromeda. [Nama “Doppler” diambil dari nama pencetusnya, Christian Doppler (1803-1853), seorang fisikawan Austria.]

Dahulu tidak diketahui apakah tabrakan ini tidak akan terjadi, apakah hanya “serempetan”, atau tabrakan langsung. Hal ini bergantung dari gerakan tangensial Andromeda. Hingga kini, para astronom belum bisa menghitung gerakan miring Andromeda, walaupun penelitiannya sudah dilakukan sejak lebih dari seabad yang lalu. Tim HST yang dipimpin van der Marel meneliti gerakan miring ini untuk menghilangkan keraguan bahwa dua galaksi ini akan bertabrakan.

Jay Anderson dari STSci mengatakan, “Penelitian ini dilakukan dengan mengamati berulang-ulang area-area dalam galaksi selama lebih dari 5-7 tahun.”

Gurtina Besla dari Columbia University di New York mengatakan, “Skenario simulasi terburuk adalah, M31 menabrak Milky Way dan bintang-bintang tersebar ke orbit yang berbeda. Semua objek yang ada dalam dua galaksi tersebut akan bertabrakan, dan Milky Way kehilangan bentuk asalnya dengan sebagian besar bintang akan berorbit sirkular. Inti dua galaksi menyatu, dan bintang-bintang akan mempunyai orbit yang acak dan menciptakan galaksi berbentuk elips.”

Ilustrasi proses tabrakan 

Video ilustrasinya bisa dilihat di sini.

Pesawat ulang alik yang melaksanakan misi perbaikan pada HST meng-upgrade HST dengan kamera-kamera yang jauh lebih bagus untuk menghitung dan memastikan pergerakan M31.


Thanks for reading ^_^

Sumber:
buku The Astronomy Handbook: Guide to The Night Sky, 2005, karya Clare Gibson.

PS:
Silakan kalau mau copy-paste, namun kalau tidak keberatan mohon sertakan link-back ke blog ini. Terima kasih.

Sabtu, 29 Oktober 2011

SUPERNOVA

Saat suatu bintang sudah kehabisan bahan bakar, bintang ini sudah mencapai fase “akhir hayat”-nya. Sedikitnya ada dua kematian bintang, nova dan supernova.

Tidak semua bintang mengalami supernova. Bila nova terjadi pada bintang-bintang kecil seperti Matahari atau yang lebih kecil lagi, supernova terjadi pada bintang-bintang raksasa atau maha raksasa (supergiant). Massa minimal suatu bintang yang biasanya mengalami supernova adalah 1,4 kali massa Matahari – angka ini disebut Chandrasekhar Limit (diambil dari nama astrofisikawan India, Subrahmanyan Chandrasekhar [1910-1995]). Meski ledakannya hanya beberapa detik, luminositasnya milyaran kali Matahari, bahkan lebih terang dari gabungan semua bintang dalam satu galaksi [luminositas: intensitas cahaya/energi yang dipancarkan bintang per detik].

Subrahmanyan Chandrasekhar

Bintang neutron adalah salah satu “alternatif” perubahan supernova. Beberapa bintang masif lain yang menjadi supernova terus menyusut dengan ukuran yang lebih kecil dari bintang neutron. Saat bintang ini menjadi lebih padat dan makin padat, gaya gravitasinya menjadi jauh lebih kuat dan apapun akan sulit “melarikan diri” dari bintang hasil supernova ini. Pada akhirnya, bintang ini mencapai fase terakhir yang bahkan membuat cahaya tidak bisa melarikan diri. Bintang seperti ini disebut black hole (lubang hitam). Black hole benar-benar luar biasa padat sehingga cahaya pun tidak akan bisa lolos. Black hole tidak terlihat, karena memang tidak memancarkan cahaya dan menarik cahaya.

SN IC 443 - bintang neutron
Crab Nebula (Nebula Kepiting), yang berjarak sekitar 6.000 tahun cahaya dari Bumi pada konstelasi Taurus, adalah sisa supernova yang teramati oleh astronom China dan Jepang pada 1054. Supernova-nya sendiri sangat sangat terang sehingga bisa terlihat selama tiga minggu di waktu siang dan dua tahun di waktu malam.

Nebula Kepiting
Bintang biru supergiant Sanduleak, meledak di galaksi terdekat, Large Magellanic Cloud (LMC; Awan Magellan Besar) pada 1987. Supernova ini disebut SNR 1987A (SNR = supernova remnant = sisa supernova).

SNR 1987A

Beberapa contoh bintang “kandidat” supernova:

Betelgeuse, atau Alpha Orionis, di konstelasi Orion.
VY Canis Majoris, di konstelasi Canis Major.
Eta Carinae, di konstelasi Carina.
Rho Cassiopeia, di konstelasi Cassiopeia.
IK Pegasi, di konstelasi Pegasus.


Thanks for reading ^_^

Sumber:
buku The Astronomy Handbook: Guide to The Night Sky, 2005, karya Clare Gibson.

PS:
Silakan kalau mau copy-paste, namun kalau tidak keberatan mohon sertakan link-back ke blog ini. Terima kasih.

Sabtu, 08 Oktober 2011

NOVA

Saat suatu bintang sudah kehabisan bahan bakar, bintang ini sudah mencapai fase “akhir hayat”-nya. Sedikitnya ada dua kematian bintang, nova dan supernova.

Arti “nova” sebenarnya adalah baru. Dinamai seperti itu karena bintang itu tampak seolah-olah baru tercipta. Namun, nova sebenarnya bukanlah “baru”, karena nova adalah bintang yang sudah ada dan mengalami kehancuran (peledakan).

Nova terjadi pada bintang-bintang kecil seperti Matahari kita, atau yang lebih kecil lagi. Saat bintang mengalami nova, bintang ini akan menjadi jauh lebih terang. Dalam waktu beberapa hari, luminositasnya akan jauh lebih tinggi dari sebelumnya [luminositas: intensitas cahaya/energi yang dipancarkan bintang per detik], sekitar 60.000 kali lipat. Setelah beberapa hari dalam kondisi ini, kualitas cahaya itu akan berkurang sedikit demi sedikit. Bintang kembali redup seperti semula.

Nova biasanya dilingkupi pembungkus berupa gas. Gas ini kadang berbentuk bola atau elips. Pembungkus ini yang menandakan adanya suatu nova. Pembungkus suatu nova kadang mencapai ukuran yang luar biasa besar. Pembungkus yang mengelilingi Nova Aquilae 1918 (nova yang muncul pada konstelasi Aquila pada 1918) berdiameter 1.600.000.000.000 km setelah sekitar 20 tahun. Crab Nebula (Nebula Kepiting) di konstelasi Taurus juga merupakan pembungkus yang telah berkembang ratusan tahun. Namun, nebula ini bukan terbentuk karena nova, melainkan diyakini terbentuk karena adanya supernova yang tampak pada 1054 (menurut catatan astronom China dan Jepang yang mengamatinya saat itu). Supernova-nya sendiri dipastikan terjadi kira-kira 4.000 tahun sebelum 1054, karena waktu yang dibutuhkan cahaya dari ledakan itu untuk mencapai Bumi adalah selama itu.

Crab Nebula
Nova pertama yang pernah tercatat adalah yang terjadi di dekat bintang Antares (atau α Scorpii, bintang terterang di konstelasi Scorpius). Nova ini dicatat oleh pengamat bintang China pada 1300 SM. Pada 1975, astronom mencatat nova yang terjadi di konstelasi Cygnus yang menyebabkan magnitudo dalam sistem bintang ganda tersebut meningkat 40 juta kali lipat.


Sedikitnya ada tiga teori terjadinya nova:

1.      Nova terjadi karena tabrakan antar bintang. Banyak bintang yang merupakan binary system (sistem bintang ganda/lebih), sehingga pada akhirnya mereka bertabrakan dan menghasilkan nova. Atau, ada bintang yang “lewat” dan kemudian menabrak bintang lain. Namun, teori ini diragukan karena nyatanya ada bintang yang melakukan nova lebih dari satu kali. Asumsinya adalah bintang berulang kali berbenturan dengan beberapa objek lain dalam 1 abad. Hal ini dianggap tidak mungkin.

2.      Nova terjadi pada binary system. Salah satu bintang “melahap” bintang yang merupakan tetangganya, atau menyerap energi tetangganya sehingga bintang itu nantinya akan mengalami nova karena kelebihan beban. Hal ini bisa terjadi bila salah satu bintang lebih kecil dari tetangganya. Pengembangan teori ini adalah bintang tersebut “melahap” planet yang menjadi satelitnya.

Bintang "melahap" tetangganya - ilustrasi
3.      Nova terjadi karena adanya pelepasan energi dari inti bintang itu sendiri. Pelepasan ini disebabkan oleh kenaikan temperatur pada inti. Teori ini yang paling banyak dianut sekarang.

Contoh nova lain terjadi pada V838 Monocerotis pada konstelasi Monoceros (konstelasi ini terletak di “kanan” Orion dan di “bawah” Gemini dan Canis Major). Pada 1989, magnitudo semu bintang ini hanya 50 (semakin kecil/semakin negatif nilai magnitudo, semakin terang bintang). Bintang ini bahkan tidak terlihat sama sekali dari Bumi dengan mata telanjang saking redupnya. Namun pada Maret 2002, bintang ini 10.000 kali lebih terang dari sebelumnya. Dan pada September 2006, gas-gas pembungkusnya sudah mulai menghilang.

V838 Monocerotis, pada 2004
Bila suatu bintang kecil, atau sangat kecil sampai massanya kira-kira 1,3 kali massa Matahari, mengalami nova tapi tidak sepenuhnya hancur, bintang seperti ini akan menjadi white dwarf (bintang katai/cebol putih). Bintang-bintang seperti ini akan tetap bersinar sampai intinya sudah tidak bisa menciut lagi. Namun, bila massa suatu white dwarf sangat padat, bintang ini akan mengalami kegagalan karena tidak bisa menahan gravitasinya sendiri. Bintang ini kemudian menjadi bintang neutron, yaitu bintang super padat yang mengandung neutron hasil penggabungan proton dan elektron yang memadat. Beratnya kira-kira 1 juta ton/cm3. Bintang neutron yang berdiameter sekitar 30 km, massanya sama dengan massa Matahari, tapi gravitasinya jauh lebih besar.

White Dwarf di NGC 6397 

SN IC 443 - Bintang Neutron
Bila bintang neutron terlalu besar (minimal 2 kali Matahari), kekuatan gravitasinya akan membanjirinya dengan tekanan tinggi dan bintang itu akan hancur. Bintang neutron ini kembali menyusut dan akhirnya menjadi black hole (lubang hitam).


Thanks for reading ^_^

Sumber:
buku The Astronomy Handbook: Guide to The Night Sky, 2005, karya Clare Gibson.


PS:
Silakan kalau mau copy-paste, namun kalau tidak keberatan mohon sertakan link-back ke blog ini. Terima kasih.

Kamis, 07 Juli 2011

2 Anekdot

[relaksasi dulu]

HARGA BURUNG MAHAL

            Seorang laki-laki melewati toko burung dan memerhatikan burung yang sedang “bernyanyi”. Karena tertarik, lelaki itu kemudian mendekati si tukang burung.

            “Berapa harga burung ini, Pak?” tanyanya sambil menunjuk burung yang sedang bernyanyi merdu.
            “Yang ini harganya satu juta, Pak,” jawab si tukang burung.

            Laki-laki itu kemudian memerhatikan burung yang diam saja di belakang burung bernyanyi itu. Burung pendiam itu juga rupanya menarik perhatian si calon pembeli.

            “Kalau yang itu berapa, Pak? Yang diam saja itu,” tanya si lelaki.
            “Kalau yang diam saja itu,” jawab si tukang burung, “harganya 2 juta, Pak.”

Si laki-laki kaget.

“Lho kok, yang bernyanyi merdu itu sejuta, tapi yang diam saja itu 2 juta. Kok lebih mahal?”
“Oh, burung yang diam saja itu kan pencipta lagunya, Pak,” jawab si tukang burung dengan enteng.


JAM DINDING NERAKA [fiktif belaka ^_^]

            Ada serombongan manusia yang sedang menunggu masuk ke pintu surga. Mereka dipanggil oleh pejabat malaikat yang bertugas di sana. Di dinding belakang tergantung puluhan jam dinding seperti halnya yang terlihat di bandara. Namun, ada perbedaan dengan jam di dunia. Bila jam di dunia menunjukkan waktu yang berbeda-beda di kota tujuan, jam dinding di akhirat ini tidak seperti itu, karena putaran kecepatannya berbeda-beda.

            Salah seorang yang bingung bertanya pada malaikat, “Mengapa jam dinding di akhirat seperti ini?”
            “Oh itu,” jawab malaikat, “jam yang tergantung itu menunjukkan tingkat kejujuran pejabat pemerintah yang ada di dunia sewaktu Anda hidup. Semakin jujur pemerintahan negara Anda, jam negara Anda di sini semakin lambat. Semakin korup, maka semakin cepat pula putarannya.”

            Rombongan manusia itu mulai memerhatikan jam dinding itu, dan mencari-cari.

            “Hei, coba lihat,” kata salah seorang, “jam Philipina berputar kencang, berarti memang benar Marcos banyak korupsi.”
            “Itu lagi, itu lagi,” seru yang lainnya. “Jam Kongo, negaranya Mobutu Seseseko berputar tidak kalah cepat dari jam Philipina.”

            Manusia-manusia itu terlihat menikmati pemandangan dan pengetahuan baru yang mereka lihat.

            Namun, mereka mencari-cari di mana gerangan jam Indonesia. Salah seorang dari mereka memberanikan diri bertanya pada malaikat, “Ngomong-ngomong, di mana gerangan jam Indonesia?”

            Sambil tersenyum, sang malaikat menjawab, “Oh, jam Indonesia… Kami taruh di dapur. Lumayan, sangat cocok dijadikan kipas angin.”


Thanks for reading ^_^

Sumber:
buku Abu Nawas Dihukum Mati, 2005, karya Safrie HS.

PS:
Silakan kalau mau copy-paste, namun kalau tidak keberatan mohon sertakan link-back ke blog ini. Terima kasih.

BETELGEUSE

Sekilas data tentang α Orionis.

Betelgeuse, atau α Orionis, adalah bintang tercerah di konstelasi Orion, meski sebenarnya bintang ini lebih redup dari β Orionis, Rigel. Betelgeuse merupakan bintang maha raksasa (supergiant) bertipe M (bintang paling merah, bersuhu 3.200-2.100 derajat Celcius). Bintang ini bertipe M karena telah melewati fase utama dan menghabiskan hampir semua energinya. Bintang yang telah melewati fase utama akan memiliki proporsionalitas antara ukuran dan massanya, termasuk luminositasnya (luminositas: intensitas cahaya/energi yang dipancarkan bintang per detik). Matahari pun telah melewati fase utama.

Posisi Betelgeuse di Orion
Betelgeuse
Dengan penghitungan modern, Betelgeuse berjarak sekitar 430 tahun cahaya dari Bumi. Sedangkan dengan paralaks, jarak supergiant ini adalah 640 tahun cahaya. Betelgeuse merupakan satu dari dua supergiant bermagnitudo besar (bintang lainnya adalah Antares, atau α Scorpii – bintang terterang di konstelasi Scorpius). Magnitudo semu Betelgeuse bervariasi antara 0,3-1,1. Magnitudo yang berubah-ubah inilah yang membuat Betelgeuse dijadikan bintang alpha meski lebih redup dari Rigel. Sedangkan magnitudo mutlaknya adalah -5,14.

[Note: Kecerahan suatu bintang diukur dengan magnitudo. Ada dua magnitudo; magnitudo semu dan magnitudo mutlak. Magnitudo semu adalah tingkat kecerahan bintang saat dilihat dari Bumi, sedangkan magnitudo mutlak adalah tingkat kecerahan bintang yang sebenarnya. Sebagai contoh, benda langit yang mempunyai magnitudo semu paling tinggi saat malam adalah Bulan, dan saat siang adalah Matahari. Makin kecil nilai magnitudo suatu objek, makin terang objek tersebut.]

Ukuran bintang supergiant ini lebih dari 1000 kali ukuran Matahari, dan 100000 kali lebih terang. Ukuran Betelgeuse hampir sama dengan luas orbit Jupiter mengelilingi Matahari, atau sekitar 4,5 kali lebih besar dari orbit Bumi mengelilingi Matahari. Artinya, jika Betelgeuse merupakan pusat Tata Surya kita, bintang ini akan “melahap” semua planet hingga Jupiter. Namun, massa Betelgeuse hanya 20 kali massa Matahari dan suhu permukaannya pun “kalah” dari suhu permukaan Matahari. Suhu permukaan Betelgeuse sekitar 3.300˚ C, sedangkan permukaan Matahari bersuhu 5.500˚ C.

Alpha Orionis 
Cahaya yang dipancarkan Betelgeuse kebanyakan berupa infrared. Dalam perkembangannya, bintang ini kemungkinan sebelumnya jauh lebih besar dan telah kehilangan banyak massa saat mencapai fase utama (mungkin lebih dari setengahnya) dalam bentuk angin bintang.

Nama Betelgeuse merupakan nama perubahan yang diambil dari bahasa Arab, “yad al jauza”, yang berarti “tangan al-jauza”.

Sekarang, telah banyak diketahui ada banyak bintang semassif Betelgeuse, dan mungkin bintang-bintang tersebut pun semassif Betelgeuse saat α Orionis ini mencapai fase utama. Dari sekitar 100 milyar bintang di Bima Sakti, diperkirakan 1% memiliki massa fase utama 30 kali lebih besar dari massa Matahari, dan mungkin Betelgeuse pun termasuk kelompok 1% ini. Perkiraan kasarnya adalah, bintang-bintang seperti itu menghabiskan 1% massa hidupnya sebagai supergiant, dan berarti ada sekitar 10.000.000 bintang mirip Betelgeuse di galaksi kita.

Ada beberapa bintang sebesar Betelgeuse yang bisa dilihat dengan mata telanjang, termasuk Betelgeuse sendiri. Contoh lainnya adalah Mira, di konstelasi Cetus. Mira, bintang menakjubkan yang mempunyai dan menyerupai “komet” raksasa, mungkin lebih besar dari Betelgeuse, sebegitu besarnya sehingga diperkirakan lapisan luar bintang tersebut juga menyatu karena gravitasi. Mira diyakini melepaskan lapisan luarnya, mungkin dalam jumlah banyak karena lemahnya gravitasi. Bintang termassif yang sejauh ini diketahui adalah η Carinae (bintang tercerah ke tujuh di konstelasi Carina), yang massanya 150 kali massa Matahari saat terbentuk, dan sekarang diperkirakan bermassa 50-60 kali massa Matahari. Pada 1830an, η Carinae meledak dan menjadi objek sangat terang yang bisa dilihat dengan mata telanjang. Saat meledak, bintang ini memancarkan gas dengan massa yang diperkirakan sama dengan massa Matahari.

Mira
"Ekor" Mira
Eta Carinae
Betelgeuse dikelilingi nebula terang dan kompleks. Gambar yang diambil dengan Very Large Telescope (VLT) milik ESO (European Southern Observatory) ini menunjukkan nebula ini menyerupai api yang memancar dari Betelgeuse, yang membentuk “monster raksasa” yang menumpahkan materinya ke ruang angkasa. Nebula yang lebih besar dari bintangnya ini membentang hingga 60 milyar kilometer dari permukaan bintang – sekitar 400 kali jarak Bumi-Matahari, hampir seluas Tata Surya kita.

Nebula Betelgeuse
Bintang merah supergiant seperti Betelgeuse merupakan bintang yang sedang dalam fase-fase terakhir bintang raksasa. Dalam fase yang pendek ini, ukuran bintang akan membesar, dan mengeluarkan materi ke ruang angkasa dalam jumlah sangat banyak – Betelgeuse mengeluarkan materi sangat banyak (hampir sama dengan massa Matahari) hanya dalam 10.000 tahun.

Proses pelepasan materi dari bintang supergiant seperti Betelgeuse menunjukkan dua fenomena. Pertama, terbentuknya lapisan gas raksasa (meskipun lebih kecil dari nebula Betelgeuse) yang membentang ke ruang angkasa dari permukaan bintang. Fenomena ke dua terjadi di balik keluarnya lapisan gas tersebut, yaitu gerakan naik turun gelembung raksasa yang kuat dalam atmosfer Betelgeuse – mirip gerakan air mendidih dalam panci.

Proses Pelepasan Materi [ilustrasi]
Lapisan gas yang terlihat dengan bintang ini diperkirakan berhubungan dengan struktur luar nebula. Nebulanya sendiri tidak bisa dilihat dalam cahaya tampak karena “tertutup” cahaya Betelgeuse. Bentuk materi yang tidak simetris dan tidak beraturan ini menandakan bahwa Betelgeuse tidak melepaskan materinya secara simetris. Nebula yang tampak mengelompok mungkin disebabkan gelembung materi bintang dan lapisan gas raksasa yang dihasilkan.

Sebagian besar materi yang dikeluarkan Betelgeuse berupa debu silikat dan alumina. Materi ini adalah materi sama yang membentuk sebagian besar kerak Bumi dan planet berbatu lainnya. Dahulu kala, silikat Bumi terbentuk dalam bintang massif mirip Betelgeuse (yang sekarang sudah “langka”).

Di awal “kehidupan”nya sekitar 10 juta tahun yang lalu, Betelgeuse merupakan bintang biru, panas, dan bertipe O. Pada akhirnya, bintang ini menyatukan neon, magnesium, sodium, dan silikon, menjadi besi. Intinya kemudian akan hancur, menyebabkan bintang ini menjadi supernova. Saat itu terjadi, Betelgeuse akan terlihat sangat terang seperti Bulan purnama.

Usia Betelgeuse hanya tinggal beberapa juta tahun lagi, dan saat kehabisan energi, bintang supergiant ini akan mengalami supernova. Saat ini terjadi, supernova bisa dilihat dengan mudah dari Bumi, bahkan di siang bolong.

Betelgeuse sempat “digosipkan” telah meledak, dan akibatnya Bumi akan mempunyai dua Matahari saat cahaya supernova supergiant ini mencapai Bumi. Namun, belum ada bukti ilmiah tentang supernova tersebut. Dan juga, supernova Betelgeuse tidak akan tampak sebesar Matahari dari Bumi. Meski, bila telah meledak, berarti cahaya supernova yang akan kita lihat adalah cahaya supernova 430 tahun yang lalu. Atau, bila Betelgeuse meledak tahun ini, maka manusia di Bumi bisa menyaksikannya 430 tahun kemudian.


Thanks for reading ^_^

Sumber:
buku The Astronomy Handbook: Guide to The Night Sky, 2005, karya Clare Gibson.

PS:
Silakan kalau mau copy-paste, namun kalau tidak keberatan mohon sertakan link-back ke blog ini. Terima kasih.