Laman

Minggu, 16 Januari 2011

SEJARAH AWAL ASTRONOMI

Ilmu astronomi sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu, saat Matahari, Bulan, planet, dan bintang diyakini merupakan perwujudan dewa dan abadi. Meski sekarang kita sudah mengetahui hal yang sebenarnya, pandangan awal tersebut dulu dianggap masuk akal karena cahaya Matahari bisa menumbuhkan benih-benih yang kemudian bisa dipanen dan dimakan, yang pada akhirnya mempertahankan kehidupan; atau Bulan yang bisa “menggerakkan” laut dan siklus menstruasi wanita; dan bintang yang berkelap-kelip “menatap” langit malam.

Astronomi merupakan ilmu tertua. Akar kata “astronomi” adalah kata bahasa Yunani, “astron” yang berarti “bintang”, dan “nomia” yang berarti “hukum”.


KONTRIBUSI YUNANI KUNO

Meski orang-orang Yunani kuno yang merumuskan dan menyebarluaskan “hukum-hukum” astronomi, mereka sebenarnya berlandaskan pada para astronom Babylonia (yang pertama kali membuat kalender dan kumpulan statistik peristiwa astronomi, pada sekitar 750 SM), dan Mesir kuno. Namun demikian, orang-orang Yunani kuno lah yang merumuskan pengetahuan astronomi yang lebih maju. Aristarchus dari Samos (sekitar 320-250 SM), menghitung jarak Matahari-Bulan dan juga menyatakan bahwa Bumi mengorbit Matahari. Hipparchus (sekitar 190-120 SM), pada sekitar 130 SM, menghitung posisi 850 bintang dan mengkatalognya, mengklasifikasi bintang-bintang tersebut berdasarkan kecerahannya dengan skala 1 hingga 6. Hipparchus juga berhasil “menemukan” presisi pada sumbu Bumi, pencapaian yang membuatnya sangat terkenal dalam astronomi.


Aristarchus dari Samos
Pemikiran Aristarchus; Matahari-Bumi-Bulan
Hipparchus
Selama satu setengah milenium, tokoh astronomi terkenal dari Yunani, tidak lain adalah Ptolemy (90-169). Kepopuleran Ptolemy adalah karena buku karyanya, The Almagest, selain karena peta dunia akurat yang dia buat. The Almagest berisi kumpulan teori Ptolemy dan juga para pendahulunya. Buku ini menjadi buku pegangan astronomi di Barat sampai abad 17, yang memperkenalkan kekeliruan serius, yaitu teori Geosentris. Dalam The Almagest, Matahari dan planet-planet – yang menurut Ptolemy adalah Bulan, Merkurius, Venus, Mars, Jupiter, dan Saturnus – mengorbit Bumi dalam bidang lingkaran masing-masing. Sementara bidang ke delapan, yang terluar, merupakan “habitat” bintang-bintang.


Ptolemy
Geosentris Ptolemy


KONTRIBUSI ISLAM

Orang-orang Islam berlandaskan pada astronomi Yunani kuno. Saat Eropa mengalamai masa Dark Age, astronomi berkembang di dunia Arab. Salah satu kontribusi terbesar Islam dalam astronomi adalah astrolab dan alat hitung lainnya. Astrolab adalah alat untuk menentukan posisi planet dan bintang. Astronom Yunani kuno sudah bisa menentukan posisi bintang dengan bola armillary, alat yang terdiri dari cincin-cincin yang bergerak – tiap cincin menandakan planet dan bola langit.


Astrolab Lingkaran
Astrolab Bola
Kuadran pengukur ketinggian – dengan busur 90 derajat dan graduasi untuk menghubungkannya dengan alat pengamat ditempelkan di lengan yang bergerak – juga digunakan pada masa Yunani kuno. Dan alat inilah yang berhasil dikembangkan jauh lebih baik dengan akurasi yang ditingkatkan, oleh orang Arab. Astrolab menghitung ketinggian dengan akurat yang memudahkan astronom menghitung posisi bintang dan planet. Adanya sistem integral, peta bintang, dan alat pengamatan, membuat astrolab bisa diputar untuk merefleksikan ketinggian yang berbeda. Kesuksesan penggunaan alat ini pada sekitar 900 membuat para astronom Arab menciptakan gambaran bintang yang sangat detail dan akurat dan juga berhasil menciptakan kalender yang belum pernah dibuat. Astronom-astronom Arab pun banyak bermunculan pada masa ini.

Muhammad bin Muhammad bin Hasan Tusi (1201-1274), atau lebih dikenal sebagai Nasir al-Din al-Tusi (Tusi dari barat), adalah seorang Persia yang membuat tabel pergerakan planet yang sangat akurat. Dia menuangkannya dalam bukunya, Zij-i Ilkhani (Tabel Ilkhani). Buku ini berisi tabel astronomi untuk menghitung posisi planet dan bintang. Model sistem pergerakan planet ini diyakini merupakan yang tercanggih pada masanya, yang nantinya dikembangkan dalam model heliosentris di masa Nicolaus Copernicus.


Nasir al-Din al-Tusi, dalam perangko
Zij-i Ilkhani
Tempat kerja al-Tusi adalah observatorium Rasad Khaneh di Azerbaijan. Al-Tusi juga menciptakan teknik geometrik yang dinamankan Tusi-couple, yang menggambarkan pergerakan dua benda bulat. Teknik ini dipakai untuk menggantikan model equant Ptolemy (equant adalah konsep matematik untuk mengukur pergerakan dua benda besar dalam buku The Almagest). Tusi-couple kemudian dipakai dalam model geosentris Ibnu al-Shatir dan model heliosentris Copernicus. Al-Tusi juga tidak mengakui teori Ptolemy yang menyatakan bahwa Bumi tidak bergerak. Pandangan ini juga kemudian sama dengan pandangan Copernicus.


Astronom Islam lainnya adalah Ala al-Din Abu al-Hasan Ali bin Ibrahim Ibnu al-Shatir (1304-1375), atau biasa disebut Ibnu al-Shatir. Sumbangsih astronom yang berasal dari Damascus ini adalah risalah astronominya yang berjudul Kitab nihayat al-Sul fi Tashih al-Usul (Pencarian Akhir Prinsip Pembenaran). Risalah ini secara drastis merombak model Ptolemy mengenai Matahari, Bulan, dan planet-planet, dengan memperkenalkan model non-Ptolemic yang menghilangkan epicycle pada model Matahari (epicycle, atau lingkaran dalam lingkaran, adalah bidang lingkaran kecil tempat planet bergerak – lihat gambar equant Ptolemy). Al-Shatir juga menghapus equant dengan menambahkan epicycle tambahan pada model planet dengan Tusi-couple, yang menghapus semua epicycle dan equant pada model Bulan.


Model Ciptaan al-Shatir
Ibnu al-Shatir juga menolak pandangan Ptolemy yang menghubungkan astronomi dengan filosofi. Tidak seperti kebanyakan astronom sebelum dia, al-Shatir tidak tertarik untuk menghubungkan prinsip kosmologi, atau filosofi alam, dan dia membuat model yang lebih sesuai dengan observasi empiris. Model ciptaannya merupakan observasi empiris yang lebih baik dari model-model yang ada sebelum model ciptaannya. Karyanya dianggap sebagai revolusi ilmiah sebelum Renaissance. Model-model dan sistem matematika yang dia gunakan tidak jauh berbeda dengan hasil Copernicus yang hidup sekitar 150 tahun kemudian.

Astronom-astronom Islam lain misalnya Ali bin Isa dan Ma Yize.


REVOLUSI COPERNICUS

Nicolaus Copernicus (1473-1543), seorang Polandia, mengemukakan teori yang fundamental, Heliosentris. Copernicus mengemukakan bahwa Bumi hanyalah planet, dan merupakan salah satu planet yang mengorbit Matahari, dan bukan merupakan pusat alam semesta. Meski ada kekurangan pada teorinya – Copernicus menyatakan bahwa orbit planet-planet berbentuk lingkaran penuh, bukan elips – Heliosentris menjadi terobosan karena melawan sistem yang selama beberapa abad diyakini benar, yaitu Bumi menjadi pusat alam semesta, Geosentris.

Nicolaus Copernicus
Halaman dari Risalah Belanda, diterbitkan dalam bahasa Latin pada  1617
Setelah itu, banyak bermunculan astronom Eropa lain, seperti Tycho Brahe (1546-1601), Johannes Kepler (1571-1630), Galileo Galilei (1564-1642), dan masih banyak lagi yang detailnya tidak bisa saya tulis di sini. Tulisan mengenai astronom-astronom akan saya muat di bagian terpisah.

Astronomi terus mengalami kemajuan sampai sekarang. Bahkan, dulu manusia hanya bisa mengamati bintang dan planet lain dari Bumi, sekarang kita bisa melakukannya dari luar Bumi.


Thanks for reading ^_^

Sumber:
buku The Astronomy Handbook: Guide to The Night Sky, 2005, karya Clare Gibson.

wikipediazimbio

PS:
Silakan kalau mau copy-paste, namun kalau tidak keberatan mohon sertakan link-back ke blog ini. Terima kasih.



Related Posts:



Tidak ada komentar:

Posting Komentar